Skip to main content

Islam yang Saya Tahu

Sudah sekian lama saya ingin menulis topik tentang "Islam yang saya tahu" ini, tapi baru saat ini Tuhan takdirkan saya bisa meluapkannya. Pertama saya ingin memberikan sebuah opening information bahwa saya lahir dari keluarga Islam, ya meskipun keluarga saya juga tidak memahami syariat Islam secara mendalam paling tidak saya diajari prinsip-prinsip untuk jujur, hemat, tidak sombong, belajar keras, bekerja keras yang saya yakini semuanya adalah bagian dari nilai-nilai Islam. Saya mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar sejak tahun 2000-an dengan sebagian teman yang non muslim, saya tidak pernah melakukan syariat Islam seperti Sholat atau puasa Ramadhan dulunya. Saya juga tidak pernah mengaji secara intensif, pernah sih tapi cuma sebentar karena tempat mengajinya sudah tidak buka lagi hehe. Itu membuat saya jangankan bisa membaca Alquran, membaca Alif, Ba', ta' pun masih belum sampai ya'. Hingga saya memutuskan untuk mengaji di masjid Warusiji saat itu masih Mushola sekitar tahun 2004 dan dimulai dari situlah saya mulai bisa membaca Alquran dan mulai melakukan puasa di bulan Ramadhan yang akhirnya orang tua saya pun juga mengikuti saya ikut puasa di bulan Ramadhan sampai saat ini. Tapi meskipun ya cuma segitu saja yang saya tahu tentang agama Islam saat itu, tapi dalam hati saya sangat meyakini Agama Islam adalah agama yang baik dan tidak pernah sedikitpun saya ragu akan agama saya sedikitpun.

Sejak kecil saya lebih tertarik kepada sesuatu yang berbau Nasionalisme dari pada Agama. Saya sangat senang membaca cerita-cerita kepahlawanan, saya juga sangat bersemangat dan senang ketika hendak melaksanakan upacara bendera, baris berbaris dan kegiatan lain yang berbau Nasionalisme. Bahkan pernah saya ikut baris berbaris SD tingkat kecamatan dalam keadaan sedang sakit gejala tipes hehe. Saya tidak tahu dan tidak pernah berfikir menghubungkan Nasionalisme dengan Agama saat itu. Bagi saya Nasionalisme adalah cinta saya untuk Negeri saya yang dulu diperjuangkan dengan derita dan darah para pejuang yang harus saya kenang dan pertahanankan sampai akhir hayat saya. Sedangkan Agama bagi saya saat itu hanyalah sebuah keyakinan bahwa Alloh SWT adalah Tuhan saya, selebihnya hanyalah ritual-ritual seperti yasinan, tahlilan, selamatan, sholat dan lain-lain, meskipun saya juga sangat senang mendengarkan diskusi Islam saat bulan Ramadhan di Radio Mayangkara FM waktu saya kecil dan secara tidak langsung juga memperkaya khazanah pengetahuan syariat saya selain dari mengaji di TPQ. Keadaan itu berlangsung bertahun-tahun, Nasionalisme saya semakin besar dan dalam dimensi yang terpisah Agama Islam adalah jalan saya menuju Tuhan dan keduanya berjalan beriringan. O iya, saya ini cukup jago berdebat ya dulu waktu masih SMK saya sangat senang pelajaran PKN karena para guru sering memberikan kesempatan saya dan teman-teman untuk berdebat tentang suatu permasalahan Bangsa.

Tahun 2012 ketika baru lulus SMK saya mulai gemar bermedia sosial, mencoba mencari teman dari seluruh Indonesia dan disitulah baru saya pahami ada masalah dalam pemahaman Keberagamaan dan Kebernegaraan di Negara ku tercinta ini. Saai itu ada teman medsos saya yang masih SMA tapi sangat gemar membuat status yang menurut saya radikal dan cenderung suka mengkafir-kafirkan orang yang cinta terhadap Bangsa ini. Saya merasa ingin mendebat tetapi saya sendiri belum bisa menemukan titik antara Keislaman dan Kebangsaan. Meskipun begitu saya sangat yakin ada titik temu itu, hanya aku yang bisa menemukan nya.

Hari demi hari berlalu, aku sibuk bekerja, sibuk masalah cinta-cintaan hehehe, ya maklumlah saat itu kan masih 17 tahun an jadi perjalananku mencari titik temu Keislaman dan Kebangsaan ku sempat tertunda.Hingga tahun 2014 dimana saat itu aku memutuskan untuk melanjutkan Kuliah setelah berhenti menempuh pendidikan sejak lulus SMK, bersamaan dengan masa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, dimana hari-hari berita nya tentang Pilpres dan Pilpres. Intelektualitas saya mulai terasah ditahun-tahun itu, karena pada dasarnya saya suka mengamati Politik dan saat itu juga masih awal-awal berkuliah hingga sekitar tahun 2016 saya mengenal NU (Nahdlatul Ulama').

Sebenarnya saya sudah pernah mendengar kata "NU" namun itu tak lebih dari sekedar pengetahuan bahwa bila kita masih melakukan slametan itu berarti kita orang NU dan jika tidak ya orang Muhammadiyah, kalau kita Hari raya Idul fitri duluan berarti ikut Muhammadiyah kalau belakangan ikut NU, ya cuma itu-itu saja. Sejak 2016 saya tahu lebih mendalam tentang NU, perjuangan NU untuk kemerdekaan, dan saya mulai menemukan titik temu Keislaman dan Kebangsaan yang selama ini saya cari, meskipun belum begitu mendalam.

Mendalami keNUan secara otodidak dan mulai tertarik dengan garis perjuangan NU juga membuat saya tertarik kedalam dunia sufisme yang memang adalah bagian dari NU itu sendiri. Namun karena jiwa muda yang belum bertemu dengan jati diri membuat saya kembali goyah. Seperti apa saya harus menjalani hidup, bagaimana seharusnya hidup, dan apa dasarnya. Hingga saya mendengar sebuah tafsir yang luar biasa yang membuat saya menemukan jati diri yang sejauh ini saya yakini dan saya jalani.

Tafsir itu adalah tafsir Al-Misbah, yang menjelaskan tentang tafsir  Alfatikhah yang merupakan induk dari Al-Qur'an. Disitu dijelaskan oleh Ustadz Quraish Shihab sendiri bahwa Surat Alfatikhah yang merupakan Induk dari Al-Qur'an dapat diringkas kembali menjadi satu ayat pertama nya yaitu Bismillah Hirahmanirohim. Disitulah Alloh SWT jelaskan bahwa sifat utama nya adalah Rahmat atau Cinta dan dengan cinta itulah kita sebagai mahluk Nya seharus nya hidup di Dunia ini. Cinta bukan hanya kepada sesama Muslim, bukan hanya semua ummat manusia, tetapi juga tumbuhan, hewan, dan seluruh alam semesta. Cinta yang menjadi cara manusia menjadi khalifah di muka bumi. Kita adalah khalifah yang bertugas mengantar mahluk menuju tujuan penciptaannya, jika ada bunga belum mekar dan kita tidak memerlukan nya jangan dipetik karena ia belum mencapai tujuan penciptaannya, jika kau menyembelih hewan sembelihlah dengan cinta, tajamkan pisau mu, bacalah basmalah agar ia sampai pada tujuan penciptaan nya kata-kata itu menancap dihati dan fikiran saya dan bagi saya ym sesederhana itu berislam yang saya tahu dan saya akan peluk agama Cinta ini sebagai jalan menuju Rodho Nya seumur hidup saya.



Comments

Popular posts from this blog

Tri Pusat Pendidikan : Konsep Lama Yang Terlupakan

Pendidikan selalu dianggap sebagai hal yang sangat penting. Tapi, ketika kita membicarakan pendidikan, seringkali yang terlintas dalam pikiran adalah sekolah dan guru. Itu wajar, karena selama ini kita diajarkan bahwa pendidikan adalah urusan yang ada di dalam kelas. Guru menjadi tokoh utama yang mengarahkan, mengajar, dan mendidik anak-anak. Namun, di balik itu semua, kita sering lupa pada konsep yang lebih luas yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Tri Pusat Pendidikan. Kita lebih mengenal istilah Trilogi Pendidikan, yang memang sangat terkenal dan sangat baik dalam menggambarkan peran guru di dunia pendidikan, namun kita kadang kurang memperhatikan bahwa pendidikan sebenarnya merupakan tanggung jawab tiga pihak utama: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan Itu Tanggung Jawab Bersama Pernahkah Anda berpikir bahwa pendidikan itu bukan hanya tanggung jawab guru saja? Sebagian besar orang tua mungkin merasa sudah cukup dengan menyekolahkan anak mereka, tetapi lupa bah...

Dari Mitos Ke Logika, Perjalanan Kesadaran Melalui Pendidikan

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu, apalagi hanya tentang memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, pendidikan adalah upaya membangun cara berpikir yang rasional, kritis, dan logis. Dalam perjalanannya, pendidikan mengajak manusia untuk memahami dunia bukan hanya melalui cerita dan kepercayaan turun-temurun, tetapi juga melalui pemikiran yang jernih dan berbasis pengetahuan.  Pada masa lalu, banyak aturan sosial dan kebiasaan dijaga melalui pendekatan kultural yang berbasis mitos atau kepercayaan mistis. Contohnya, larangan menebang pohon besar di hutan karena dianggap angker, atau ajaran untuk tidak berkata kasar kepada orang tua karena diyakini akan membawa kutukan atau kuwalat. Nilai-nilai ini sesungguhnya memiliki muatan moral dan fungsi sosial yang positif, namun disampaikan melalui cara yang bersifat simbolik dan menakut-nakuti.  Kini, dengan semakin terbukanya akses terhadap pendidikan, cara pandang masyarakat terhadap berbagai hal mulai berubah. K...